Minggu, 29 Mei 2011

Pesawat Siluman " Stealth "

Pesawat siluman (bahasa Inggris: stealth aircraft) atau disebut pesawat amat senyap adalah pesawat yang dirancang untuk menyerap dan membelokkan radar menggunakan teknologi siluman, membuatnya lebih sulit untuk dideteksi. Pada umumnya tujuannya adalah melancarkan serangan selagi dia masih berada di luar pendeteksian musuh. F-117 Nighthawk adalah salah satu jenis pesawat siluman yang digunakan angkatan udara Amerika Serikat dalam Perang Teluk.

Pesawat siluman memiliki kemampuan untuk menghindari pendeteksian, baik deteksi secara visual, audio, sensor panas, maupun gelombang radio (radar). Secara visual, pesawat lebih sulit untuk terlihat bila mempunyai warna yang sama dengan warna latar belakangnya (kamuflase). Secara audio, tentunya berusaha untuk membuat pesawat semakin tenang. Secara sensor panas, pesawat biasanya dideteksi dari panas yang timbul dari badannya atau dari temperatur udara di sekelilingnya. Bagian paling panas dari pesawat biasanya adalah saluran buangan udara mesin atau exhaust dan leading edge (bagian pesawat yang pertama membelah udara). Panas dari exhaust bisa dikurangi dengan cara mencampur semburan mesin dengan udara dingin dari luar badan pesawat sebelum dihembuskan keluar pesawat dan memperpanjang pipa exhaust (seperti A-4 Skyhawk Indonesia yang mempunyai exhaust lebih panjang dibanding versi standarnya). Bagian exhaust ini biasanya dikejar oleh rudal anti-pesawat dengan sensor inframerah. Akan tetapi rudal pencari panas modern kini juga memiliki kemampuan untuk mendeteksi dan mengejar panas yang dihasilkan akibat pergesekan permukaan badan pesawat dengan udara.

Deteksi secara gelombang radio adalah dengan cara mencegah gelombang radio dari radar tidak terpantul dari badan pesawat dan kembali ke radar. Gelombang radio tersebut bisa diserap jika badan pesawat dilapisi RAM (Radar Absorbent Material), dipantulkan ke arah lain, atau sedemikian sehingga gelombang tersebut menjadi hilang atau saling meniadakan (hal inilah yang mendasari bentuk pesawat siluman yang mempunyai bentuk yang lain dari pesawat biasa atau agak aneh).

Pesawat siluman biasanya tidak 100% tidak terdeteksi radar. Tetapi karena memiliki RCS (Radar Cross Section) yang kecil maka di layar radar hanya tampak sebesar gerombolan burung, bukan pesawat.

SEJARAH PENEMUAN TEKNOLOGI SILUMAN

'Siluman' dikembangkan oleh seorang ilmuwan Rusia, pada tahun 1966 oleh Dr. Pyotr Ufimtsev melalui sebuah kertas kerja yang berjudul method of edge waves in the physical theory diffraction (Metode Gelombang Tepian dalam Teori Fisik Difraksi) yang merupakan kertas kerja yang cukup panjang namun tidak bertele-tele yang diterbitkan oleh salah satu media di Moskow pada tahun 1966. Namun kertas kerja ini tidak memperoleh sambutan yang hangat oleh para ahli di sana, karena banyak isinya yang tidak bisa dicerna oleh akal sehat. Padahal Ufimtsev adalah ahli yang berpengalaman dalam Institut Rekayasa Radio Moskow.

Ide murni Ufimtsev berupa formulasi pelumpuhan radar dan jaringan kerjanya diambil dari kesimpulan mentah ahli Inggris James Clerk Maxwell pada abad ke-19 di mana setelah diramu berkali-kali ditambah dengan penalaran terpadu, Ufimtsev mengkalkulasikan cara-cara baru, yakni membentuk ruang bentuk geometris khusus yang mencerminkan radiasi elektromagnetis. Dengan menciptakan kalkulasi silang sebuah radar yang mudah dilumpuhkan. Ia menetapkan rumus konfigurasi bersisi dua dimensi, berupa tata cara mengutak-atik komponen dalam sebuah radar. Hasilnya, radar bisa terganggu bila dikacaukan dengan sinar dua dimensi tadi. Sinar itu sebenarnya masih belum cukup tetapi jika dikalkulasikan secara cermat dari situ bisa diciptakan pesawat tiga dimensi yang sulit dilacak radar.

Secara teoritis, banyak sekali kekuatan untuk melumpuhkan stealth, namun diperlukan sangat banyak jaringan komputer yang bekerja sangat cepat. Persisnya seperti mengamati bola dengan menggunakan teropong di mana bisa dilokalisasi namun jangan harap bisa menjejaknya sehingga ibarat bola yang dimainkan, para pemain sudah menggiring bola entah ke mana dan tidak mungkin menembak bola yang terbang entah ke mana arahnya dengan senapan angin.

Pada tahun 1979, Rusia mengembangkan satu pesawat intai dan dari uji coba ternyata berhasil mengecoh radar anti pesawat terbang Amerika Serikat di padang pasir Nevada.

PRINSIP PESAWAT STEALTH

Pada prinsipnya, supaya pesawat tersebut menjadi stealth (siluman) dalah cara memperkecil Radar Cross Section (RCS) yang tampak pada Radar. Langkah yang dilakukan adalah membuat desain bentuk pesawat tersebut sedemikian rupa sehingga permukaan-permukaan pesawat sekecil mungkin memantulkan energi yang dipancarkan radar untuk ditangkap kembali oleh antena radar. Bahkan bila perlu bentuk pesawat tersebut sama sekali tidak memantulkan energi radar. Kalaupun dipantulkan, diusahakan agar pantulan energi radar tersebut diarahkan ke arah lain sehingga jika ada yang tertangkap kembali, paling tidak hanya sebagian kecil saja. Untuk itu, maka bentuk pesawat dibuat aneh tidak seperti biasanya. Seperti contoh, bentuk pesawat B-2 yang memiliki rentang yang sama panjangnya dengan rentang pesawat DC-10 namun bentuknya dibuat pipih dan melengkung di bagian tengah badannya. Dengan bentuk demikian, disamping cepat rambat pancaran radar diperlambat juga memberikan efek pantulan ke segala arah.

Bentuk sayap pesawat juga memengaruhi pantulan pancaran energi radar. Bentuk sayap pesawat lama yang lurus ke samping misalnya memberikan pantulan yang sempurna sehingga pesawat ini mudah terdeteksi. pada layar monitor, titik RCS pesawat-pesawat itu tampak besar.

Melihat kenyataan demikian, kemudian orang membuat sayap sayung kebelakang, memang memperkecil pantulan namun tidak memuaskan karena RCS makin besar, maka dibuatlah delta yang membuat sebagian besar pancaran radar yang mengenai sayap itu, sebagian besar dibuang ke arah lain. Kemudian dibuat sayap dengan bentuk sabit seperti yang dimiliki pesawat-pesawat generasi berikutnya. Dengan membuat lengkungan pada bagian sayap, leading edge, maka pantulan ke arah lain semakin sempurna.

Desain lain adalah membentuk pesawat bersegi-segi kubustik seperti bentuk mata faset, seperti pada mata capung. Bentuk tersebut juga ditemui pada helikopter pada generasi 1980-1990-an seperti pada AH-1 Cobra, dan AH-64 Apache sehingga pantulan radar tidak kembali ke antena radar.

Kemudian umumnya desain pesawat stealth tidak mengijinkan adanya pylon atau penggantung rudal maupun roket yang digantungkan pada badan dan sayap pesawat seperti yang dijumpai pada pesawat umumnya. Sehingga rudal ditempatkan pada rak-bom (bomb bay) khusus.

Cara lain yakni dengan menggunakan material khusus yang dikenal sebagai RAM (Radar Anti material) yang merupaka bahan penyerap energi pancaran radar. Bahan-bahan tersebut antara lain komposit berupa graphyte epoxy dari karbon. Karena bahan itulah, maka energi radar tidak terpantulkan.

Meskipun demikian, rancangan tersebut tetap tidak sempurna untuk mengelabui radar. Sebagai contoh pesawat stealth F-117 berhasil ditembak jatuh oleh rudal anti pesawat udara SAM (Surface to Air Missiles) SA-2 Guideline milik Serbia ketika operasi udara NATO pada tahun 1999 saat Konflik Kosovo.


Referensi :

  • Artikel/ Kolom Konsultasi Majalah Angkasa edisi Juni 1992.
  • Artikel Stealth ternyata Ciptaan Rusia, Majalah Angkasa edisi Oktober 1994.
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Pesawat_siluman#Penemuan_Teknologi_Siluman




Latar Belakang Perang Teluk 1

Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki.

Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990.

Amerika Serikat mengirimkan bantuan pasukannya ke Arab Saudi yang disusul negara-negara lain baik negara-negara Arab kecuali Syria, Libya dan Yordania serta Palestina. Kemudian datang pula bantuan militer Eropa khususnya Eropa Barat (Inggris, Perancis dan Jerman Barat), serta beberapa negara di kawasan Asia. Pasukan Amerika Serikat dan Eropa di bawah komando gabungan yang dipimpin Jenderal Norman Schwarzkopf serta Jenderal Collin Powell. Pasukan negara-negara Arab dipimpin oleh Letjen. Khalid bin Sultan.

Misi diplomatik antara James Baker dengan menteri luar negeri Irak Tareq Aziz gagal (9 Januari 1991). Irak menolak permintaan PBB agar Irak menarik pasukannya dari Kuwait 15 Januari 1991. Akhirnya Presiden Amerika Serikat George H. Bush diizinkan menyatakan perang oleh Kongres Amerika Serikat tanggal 12 Januari 1991. Operasi Badai Gurun dimulai tanggal 17 Januari 1991 pukul 03:00 waktu Baghdad yang diawali serangan serangan udara atas Baghdad dan beberapa wilayah Irak lainnya serta operasi di daratan yang mengakibatkan perang darat yang dimulai tanggal 30 Januari 1991.

Irak melakukan serangan balasan dengan memprovokasi Israel dengan menghujani Israel terutama Tel Aviv dan Haifa, Arab Saudi di Dhahran dengan serangan rudal Scud B buatan Sovyet rakitan Irak, serta melakukan perang lingkungan dengan membakar sumur sumur minyak di Kuwait dan menumpahkan minyak ke Teluk Persia. Sempat terjadi tawar-menawar perdamaian antara Uni Sovyet dengan Irak yang dilakukan atas diplomasi Yevgeny Primakov dan Presiden Uni Sovyet Mikhail Gorbachev namun ditolak Presiden Bush pada tanggal 19 Februari 1991. Sementara Sovyet akhirnya tidak melakukan tindakan apa pun di Dewan Keamanan PBB semisal mengambil hak veto. Israel diminta Amerika Serikat untuk tidak mengambil serangan balasan atas Irak untuk menghindari berbaliknya kekuatan militer Negara Negara Arab yang dikhawatirkan akan mengubah jalannya peperangan.

Pada tanggal 27 Februari 1991 pasukan Koalisi berhasil membebaskan Kuwait dan Presiden Bush menyatakan perang selesai.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Teluk_I

Minggu, 01 Mei 2011

F22 Raptor " si raja udara "


<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false false IN KO X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Teknologi terus berkembang. Saat ini kita dibuat terkagum-kagum dengan teknologi pesawat tempur mutakhir yang katanya bisa mengalahkan 10 pesawat tempur Sukhoi dalam satu pertempuran, dan membuat F16 nggak ada harganya.

F-22 Raptor adalah pesawat tempur paling canggih di dunia saat ini. Pesawat ini merupakan pesawat generasi ke-5 dari pesawat tempur militer. F-22 memiliki banyak fitur yang membuat pesawat ini muncul sebagai pesawat militer yang paling maju.

Berikut beberapa fitur yang ditingkatkan dari generasi ke 4 sebelumnya pesawat F-14 Tomcat & Hornets F18:

1. Stealth

Pesawat tempur ini tidak akan terdeteksi oleh radar musuh. Jika pesawat sobat tidak dapat dilihat, maka sobat akan hampir tidak mungkin dapat ditembak, dijatuhkan, dan dikalahkan. Masa depan teknologi ini terutama dihasilkan oleh bentuk struktur rekayasa pesawat dan bahan yang menyerap gelombang radar menggunakan RAM, Bahan penyerap Radar .

2. Mini AWACS, "Pertama-lihat, pertama-tembak, pertama-membunuh"

F-22 pesawat memiliki radar dengan jangkauan lebih jauh dari pesawat lain. Ini berarti bahwa F-22 dapat melihat pesaawat musuh jauh sebelum pesawat musuh dapat melihat pesawat F-22. F22 juga memiliki sistem LPI (Low Probability of Intercept) radar super canggih, yang berarti pesawat yang telah terdeteksi oleh radar F-22 tidak akan mampu mengetahui apakah ia terdeteksi dan radar peringatan tidak akan menyala.

3. Super Manuver.

F-22 memiliki Thrust vector teknologi di bagian ekornya, yang berarti pengeluaran energi mesin bisa diarahkan ke mekanisme fleksibel. Hal ini membuat manuver yang lebih baik.

Spoiler for PIC:


4. Senjata Rahasia

F-22 memiliki senjata tersembunyi di pesawat, dan hanya akan terbuka saat baku tembak. Hal ini membuat F22 semakin sulit terdeteksi, dan lebih aerodinamis yang membuat pesawat ini bisa terbang lebih cepat dan lebih efisien.

Spoiler for PIC:



Berdasarkan penelitian dari Badan Riset dan Evaluasi Pertahanan, F-22 adalah pesawat paling canggih dan paling mematikan di dunia, bahkan 10 kali lebih mematikan daripada pesawat Rusia terbaik saat ini, SU-35 (SU-37 masih merupakan percobaan , kita biasa menyebutnya dengan Sukho

Spoiler for PIC:


Dibandingkan dengan pesawat tempur Eropa, Eurofighter Typhoon, F-22 dua kali lebih berbahaya. Ini berarti bahwa setiap pesawat F-22 sanggup menembak jatuh 2 pesawat Typhoon. Sedangkan generasi sebelumnya pesawat Amerika, F-16, tidak mungkin mengalahkan F-22 dalam kondisi apapun.

Spoiler for PIC:

Sumber : www.kaskus.us

Senin, 11 April 2011

Kulit Durian Bisa Menjadi Energi Alternatif

Durian,buah beraroma kuat ini banyak disukai karena rasanya yang manis,meski tampilan luarnya tidak begitu memesona. Buah tropis ini banyak ditemukan di Indonesia.Namun, selama ini Durian hanya dimanfaatkan isi buahnya saja.

Kulit dan biji buah,mayoritas hanya dijadikan sampah yang menumpuk saja. Namun,di tangan Huwaida Najla A,siswi SMA 2 Kudus, Jawa Tengah,kulit Durian ini bisa disulap menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai tinggi.Lewat sentuhan terampil Huwaida,kulit Durian bisa diubah menjadi energi listrik.Melalui serangkaian penelitian,Huwaida akhirnya mampu memanfaatkan kandungan zat kulit Durian menjadi aliran energi listrik. Huwaida mengaku,kulit Durian mampu menghidupkan kembali baterai kering atau lazim disebut batu baterai yang sudah mati (lost energy).Menurut dia, kulit Durian memiliki kandungan zat kalium dan natrium tinggi yang bisa digunakan untuk mengalirkan ion positif dan negatif.Kandungan dua zat inilah yang kemudian menciptakan aliran listrik.

Huwaida mengungkapkan, hasil temuannya ini berawal dari kejengkelannya melihat tumpukan kulit Durian di sekitar rumah.Selain berbau tajam,tumpukan sampah kulit Durian itu juga tidak enak dipandang mata.Setelah memutar otak,Huwaida kemudian memulai serangkaian penelitian,dan akhirnya menemukan bahwa kulit Durian memiliki kandungan listrik yang cukup besar. “Ternyata, di dalam kulit Durian mengandung unsur kalium dan natrium tinggi yang bisa digunakan untuk mengalirkan ion positif dan negatif.Dengan sejumlah proses,kulit Durian ini mampu menghasilkan tegangan sebesar 1,25 volt.Tegangan ini cukup untuk menghidupkan kembali aliran listrik baterai yang sudah mati,”ungkap Huwaida.

Huwaida pun menje-laskan proses pengolahan kulit Durian menjadi aliran listrik. Langkah pertama,ungkapnya, kulit luar Durian yang penuh duri dipisahkan dari bagian dalam yang berwarna putih.Setelah itu, kulit bagian dalam tersebut dipotong kecil dan ditumbuk halus.Kemudian, didiamkan selama beberapa menit.Sembari menunggu hasil tumbukan agak kering, dipilih baterai kering yang sudah tidak terpakai.“ Buang kulit luar pembungkus baterai. Setelah itu, buka penutup atas baterai,” jelasnya. Setelah itu,ungkap Huwaida, buang isi baterai yang berupa serbuk berwarna hitam (pasta).Serbuk warna hitam ini memiliki kandungan manga,besi,karbon,dan tembaga. Isi inilah,jelas Huwaida, yang nantinya diganti dengan serbuk dari kulit Durian.

“ Baterai hasil olahan ini mampu menghidupkan bola lampu ukuran kecil.Kandungan energi baterai ini mampu bertahan hingga lima hari,”paparnya. Berkat sentuhan tangannya ini,Huwaida pun dilirik oleh Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). Huwaida pun akhirnya dikirim Kemenristek untuk mengikuti ajang konferensi teknologi internasional,Apec Future Scientis Conference (AFSC) di Taiwan,10–16 April 2011. Ajang ini rencananya diikuti 13 negara di dunia.Beberapa negara yang ikut serta adalah Amerika Serikat, Korea Selatan,Selandia Baru, Australia,Taiwan,dan negara- negara dalam lingkup ASEAN. Guru pembimbing Huwaida, Yuda Setiabudi,mengatakan, AFSC ini arahnya lebih kepada pemanfaatan limbah dan solusi untuk penyelamatan lingkungan (Sustainable Green Energy and Enviromental Solution).

Lewat konferensi internasional ini,diharapkan muncul temuan-temuan dan inspirasi baru agar manusia tidak selalu menggunakan sumber energi yang tak dapat diperbarui seperti minyak bumi dan yang berasal dari fosil. “Sebenarnya,ada banyak energi terbarukan di sekitar kita.Namun,kita saja yang belum sampai ke sana.Dan kreativitas mengolah kulit Durian menjadi energi adalah bagian dari itu.Makanya perlu kita apresiasi,”tegas Yuda.

Sumber : www.kaskus.us